Kamis ,23 Oktober 2014
Balai Melayu Hotel

Artikel

Inovasi Dalam Cerita Ketoprak Anglingdarma

27 September 2010 15:11:41

Oleh: Akhmad Nugroho

A. Pengantar

Ketoprak, sebagai salah satu jenis teater daerah Jawa, pertama kali muncul di Yogyakarta sekitar tahun 1925. Cerita yang dipentaskan mula-mula bersumber dari dongeng seperti Jaka Tarub, Piti Tumpa, dan Panji, kemudian meningkat ke cerita adaptasi seperti Menak, Sam Pek Ing Tay, dan Si Jin Kui (Harymawan, 1993: 229). Dari segi cerita itulah, ketoprak menunjukkan adanya perubahan sesuai dengan kreativitas pengarangnya.

Sekitar tahun 1928, arah perkembangan organisasi ketoprak sudah menuju profesional. Ada rombongan wayang orang "Beksa Langen Wanodya" dari Surakarta yang sengaja mengubah sajian wayang orang menjadi ketoprak. Rombongan itu sempat mengadakan pertunjukan keliling di Yogyakarta, Bandung, Jakarta, Semarang, Surabaya, Jember, dan Banyuwangi (Kussudyarsana, 1989: 28). Hal itu menunjukkan bahwa ketoprak sudah laku dijual dan ditonton bukan hanya oleh orang Yogyakarta, tetapi juga oleh masyarakat hampir seluruh Jawa.

Dilihat dari masyarakat pendukungnya, drama sastra Jawa dapat dibagi dua, yaitu kelompok kesenian kraton dan kelompok kesenian rakyat. Kelompok kesenian kraton antara lain wayang orang, Langendriya, dan Langenwanara. Kelompok kesenian rakyat antara lain ketoprak, ludruk, dan serandul (Hutomo, 1988: 60). Namun, akhirnya batas antara kraton dan rakyat serta para pendukungnya berbaur menjadi satu. Ketoprak tidak lagi sekedar pertunjukan rakyat desa yang dipergelarkan di lapangan terbuka, tetapi sudah merambah ke gedung-gedung di kota-kota. Pada tanggal 12 Februari 1992, misalnya (Kristanto, 1997: 131), di Bentara Budaya Jakarta dipentaskan ketoprak Sapta Mandala dari Yogyakarta dengan lakon Suminten (Ora) Edan `Suminten (Tidak) Gila`. Sebagai salah satu usaha pembaruan, dibuatlah ketoprak garapan berupa ketoprak plesetan. Tokoh utama Raden Subrata yang tampan dan serius diperankan oleh Marwoto yang menonjol kepelawakannya. Tokoh wanita Warsiyah yang cantik jelita diperankan oleh Endang Murtiningsih yang sungguh-sungguh gembrot, lengkaplah plesetan tokoh-tokohnya. Dalam bentuknya seperti itu, ketoprak plesetan sudah berfungsi dengan baik bagi masyarakatnya.

Selain di masyarakat kota, ketoprak juga muncul di TV. Tahun 1996 di TVRI Yogyakarta, ditayangkan ketoprak sayembara Kebranang ing Gegayuhan `Terbakar Keinginan` yang menyediakan hadiah-hadiah antara lain 100 Tabanas masing-masing Rp 50.000,00, 40 buah sepeda MTB, 10 buah TV, 10 buah sepeda motor, dan sebuah rumah seharga 25 juta rupiah (Kedaulatan Rakyat, 15 Juli 1996, hlm. 1 dan 12). Dilihat dari kenyataan seperti itu, tidak berlebihan kalau ketoprak masih mempunyai pendukung cukup banyak, baik di DIY, Jawa Tengah, maupun Jawa Timur, bahkan di Jakarta. Pada awal kemunculannya, pergelaran ketoprak memainkan aneka cerita dari dongeng-dongeng hingga cerita adaptasi dari karya asing tanpa menggunakan teks. Baru sekitar tahun l970-an, Sumardjono dari RRI Yogyakarta memperkenalkan sistem full text dalam pergelaran ketoprak. Hal itu dilakukan dengan membuat naskah lengkap karena banyak pemain muda yang lemah penguasaan bahasa Jawanya. Sistem ini semula ditentang oleh para pemain senior, katanya mengurangi improvisasi, tetapi ternyata juga karena para pemain senior ada yang tidak bisa membaca. Namun, akhirnya sistem full text ini dapat diterima. Pemain senior ada yang kemudian belajar hingga pandai membaca, seperti Bu Parmi yang juga dikenal sebagai bintang film (Mardianto, 2001: 121).

Dalam cerita tradisional Jawa, pembaruan juga terjadi, baik dari segi materi cerita maupun pertunjukannya. Dalam seni pertunjukan wayang orang Yogyakarta zaman dahulu, tokoh wanita dimainkan oleh pria, seperti ketika tokoh Pergiwa, isteri Gatotkaca, dimainkan oleh Raden Mas Admiral (Soedarsono, l986: 163). Demikian pula dalam seni pertunjukan ketoprak. Barulah pada tahun l950-an, ketika kepala RRI Yogyakarta dijabat oleh Abdul Hamid, maka tokoh wanita dimainkan oleh wanita (Mardianto, 2001: 121).

Dalam kesenian ludruk, travesti `tandak ludruk` yang cantik itu ternyata juga dimainkan oleh laki-laki. Ada seorang tandak ludruk bernama Tumus, sebetulnya laki-laki, tetapi laki-laki lain jatuh cinta padanya bukan hal yang baru (Supriyanto, l994: 88). Namun, sekarang ini, tandak ludruk juga sudah banyak dimainkan oleh wanita.

Kebaruan-kebaruan juga terjadi pada sastra daerah lain di Indonesia ini, seperti dalam sastra daerah Minangkabau, drama Puti Bungsu karya Wisran Hadi adalah resepsi warisan budaya lama Minangkabau yang diciptakan kembali sesuai dengan konteks masa kini (Teeuw, l988: 216). Wisran Hadi dalam dramanya itu menggunakan beberapa sumber, pertama-tama tentu saja Malin Kundang, kemudian kedua Malin Deman, dan bahkan mengambil sumber yang ketiga Sangkuriang dari Sunda (Junus, l985: 39). Wisran Hadi juga menulis teks sandiwara Cindua Mato yang dapat dihubungkan dengan mitos Minangkabau Cindua Mato, tampak hubungan tradisi dan modernitasnya (Esten, 1992).

Kebaruan seperti itulah yang juga akan dilihat dalam cerita ketoprak Anglingdarma. Untuk melihat kebaruannya, tentu saja perlu dibandingkan dengan cerita-cerita Anglingdarma yang lain. Ada tiga cerita Anglingdarma yang akan diperbandingkan, yaitu cerita Aridarma dari Tantri Kamandaka (TK), Serat Kandhaning Ringgit Purwa (SKRP), dan Setyawati Obong (SO). Tiga cerita Anglingdarma tersebut kebetulan mewakili Sastra Jawa Pertengahan, Sastra Jawa Klasik, dan Sastra Jawa Modern. Kebaruannya akan dilihat pertama-tama dari bentuk teksnya yang mula-mula prosa atau puisi kemudian menjadi drama, munculnya nama-nama tokoh baru serta tempat-tempat kejadian yang baru, dan yang tidak kalah pentingnya adalah adanya interpretasi baru terhadap suatu kejadian dalam cerita Anglingdarma itu. Dengan membandingkan antara yang lama dan yang baru tampak kebaruannya, dan kebaruan itu menunjukkan bahwa cerita tradisional Jawa ketoprak ternyata terus digali dan dikembangkan oleh para pendukungnya. Akan tampak juga bahwa kebaruan dalam cerita ketoprak dapat dirunut hingga cerita dalam sastra dunia. Hal itu memang tidak mustahil karena sadar atau tidak, para pengarang cerita ketoprak juga pernah melihat atau mendengar karya sastra dunia tertentu.

B. Sinopsis

Ada tiga buah cerita Anglingdarma yang akan dikemukakan sinopsisnya, yaitu TK, SKRP, dan SO yang secara berurutan merupakan hasil karya sastra Jawa zaman Sastra Jawa Pertengahan, Sastra Jawa Klasik, dan Sastra Jawa Moderen. Ketiga karya itu secara berurutan masing-masing ditulis dalam bentuk prosa, puisi, tembang macapat, dan barulah yang terakhir dalam bentuk naskah drama.

1. Tantri Kamandaka (TK)

Prabu Aridarma yang sedang berburu di hutan melihat Nagini putri naga-raja sedang berzina dengan ular sembarangan. Menurut Aridarma perbuatan itu melanggar tatanan karena akan merusak keturunan, maka Nagini yang berwujud ular naga itu dipukul ekornya. Nagini yang kesakitan dan sakit hati segera pulang mengadu kepada ayahnya sang naga-raja. Mendengar pengaduan anaknya, naga-raja akan menuntut balas kepada Raja Aridarma. Dengan cara mengubah bentuk dirinya menjadi ular yang sangat kecil, naga-raja menyelinap ke bawah pembaringan Raja Aridarma.

Aridarma dan permaisuri Mayawati sedang tiduran sambil bercerita bahwa baru saja Aridarma terpaksa memukul Nagini yang berbuat serong berzina dengan ular sembarangan. Mendengar cerita itu, naga-raja yang bersembunyi di bawah tempat tidur sadar bahwa anaknyalah yang salah. Naga-raja kemudian mengubah bentuk dirinya menjadi Brahmana menemui Aridarma untuk mengucapkan terima kasih. Sebagai tanda terima kasih, naga-raja akan memberikan apa saja yang diminta oleh Aridarma.

Aridarma minta suatu ajian yang dapat mengerti bahasa binatang. Naga-raja memberinya, tetapi ada satu pantangan bahwa ajian itu dilarang dikatakan kepada orang lain. Kalau dilanggar, Aridarma akan mati seketika.

Aridarma sedang berdua dengan Mayawati. Ada seekor cicak betina yang berkata bahwa alangkah mesranya Aridarma dan Mayawati, sementara cicak betina itu sama sekali tidak pernah diperhatikan oleh cicak jantan. Mendengar kata-kata cicak itu Aridarma tertawa. Mayawati yang mendengar Aridarma tiba-tiba tertawa tanpa sebab menjadi curiga. Ketika Mayawati bertanya, Aridarma tetap tidak berterus terang karena dirinya bisa mati. Kalau Aridarma takut mati, Mayawatilah yang bersedia mati. Karena terus didesak oleh Mayawati, Aridarma akan berterus terang sekalipun itu akan membuatnya mati. Oleh karena itu, disiapkanlah tempat api pembakaran jenazah.

Aridarma dan Mayawati kemudian naik ke atas panggung bersiap-siap terjun ke api setelah berterus terang mengenai penyebab Aridarma tertawa sendiri. Tiba-tiba di tengah kerumunan orang yang akan menyaksikan peristiwa terjun ke api itu muncullah sepasang kambing jantan dan betina bernama Banggali dan Wiwitan. Kambing betina Wiwitan minta agar Banggali mengambil selembar daun janur kuning di dekat api pembakaran untuk dimakannya. Kalau tidak diambilkan, Wiwitan akan bunuh diri. Banggali tidak mempedulikan ancaman Wiwitan, bahkan kalau Wiwitan bunuh diri Banggali akan kawin lagi.

Dari atas panggung, Aridarma mendengar kata-kata Banggali dan sadarlah dia bahwa tidak setiap permintaan isteri harus dituruti. Aridarma kemudian turun dari panggung, Mayawati akhirnya terjun ke api bersama kambing betina Wiwitan (Poerbatjaraka, l9952: 62-67).

2. Serat Kandhaning Ringgit Purwa  (SKRP)

Sang Prabu Anglingdarma sedang berburu kijang di hutan, tampak olehnya ular betina Nagagini sedang bersanggama di tengah jalan dengan ular tampar kecil. Melihat kejadian itu Anglingdarma marah karena tahu bahwa Nagagini adalah putri Nagapratala, sahabatnya. Anglingdarma memanah ular tampar itu, tetapi terkena ekor Nagagini. Nagagini pulang sambil menangis.

Ketika Anglingdarma pulang dari hutan, ada sepasang burung kutilang berkasih-kasihan di atas dahan. Merasa dihina dengan tingkah laku burung itu, Anglingdarma memanahnya. Burung betina kena panah dan tewas seketika. Sepasang burung tiba-tiba musnah dan dari langit terdengar suara kutukan bahwa Anglingdarma juga akan kehilangan isteri. Sepasang burung kutilang itu ternyata penjelmaan Batara Guru dan Dewi Uma yang sedang bercengkerama.

Di Kerajaan Mulwa, Anglingdarma menceritakan kisah sedih yang baru dialaminya kepada Dewi Seca, isterinya. Anglingdarma sebetulnya merasa tidak bersalah telah menyakiti Nagagini karena maksudnya memberikan pelajaran agar Nagagini mencari pasangan yang seimbang dan bukan dengan sekedar ular tampar. Mendengar cerita Anglingdarma kepada Dewi Seca itu, Naga-pratala yang bersembunyi di bawah bantal sadar bahwa Nagaginilah yang salah. Naga-pratala ke luar ke halaman dalam ujudnya sebagai naga yang sangat besar, Angling-darma menyambutnya sebagai seorang sahabat. Nagapratala mengucapkan terima kasih kepada Anglingdarma yang telah memberikan ajaran kesusilaan kepada Nagagini, dan apa pun yang diminta oleh Anglingdarma akan dipenuhi oleh Naga-pratala. Anglingdarma minta agar diberi kesaktian dapat mengetahui bahasa binatang. Oleh Nagapratala kemudian Angling-darma dibawa ke sebuah gua untuk diajar-kan aji gaib Suleman yang dapat mengetahui bahasa binatang. Nagapratala berpesan agar ajian tersebut tidak diajarkan kepada siapa pun. Kalau larangan itu dilanggar, Angling-darma akan tewas seketika.

Setiba kembali ke Kraton Mulwa, Anglingdarma berbincang-bincang dengan Dewi Seca di tempat tidur. Di atas tempat tidur tampak dua ekor cicak putih yaitu Serpana dan Serpani. Serpana ingin bersanggama, tetapi Serpani menolak karena di perutnya sedang terkandung telur yang hampir keluar. Serpani lari tetapi Serpana terus mengejarnya, tergigit ekor Serpani hingga putus. Serpani menangis kesakitan.

Melihat ulah dua binatang itu, Anglingdarma tertawa. Mendengar Anglingdarma tiba-tiba tertawa, Dewi Seca tersinggung dikira Anglingdarma menertawakannya. Anglingdarma kemudian berterus terang bahwa dia mempunyai aji Gineng pemberian Nagapratala sehingga dapat mengetahui bahasa binatang, di atas mereka sedang ada sepasang cicak yang sedang bertengkar. Dewi Seca kemudian ingin juga memiliki ajian itu, Anglingdarma menolak memberinya. Ketika Dewi Seca terus mendesak, Anglingdarma akan memberinya juga. Api pembakaran disiapkan di alun-alun, setelah Anglingdarma memberikan aji Gineng kemudian akan terjun ke api. Anglingdarma dan Dewi Seca kemudian naik ke atas panggung di tepi api pembakaran.

Tiba-tiba muncullah dua ekor kambing jantan dan betina penjelmaan Batara Endra dan Wisnu. Kambing betina ingin makan janur kuning yang ada di dekat api pembakaran, tetapi kambing jantan menolak mengambilkannya. Karena ditolak permintaannya, kambing betina mengancam akan bunuh diri. Ternyata kambing jantan tidak takut ancaman isterinya. Dari atas panggung Anglingdarma mendengar kata-kata kambing jantan, seketika itu juga hilang rasa cintanya kepada Dewi Seca. Anglingdarma batal memberikan aji Gineng kepada Dewi Seca, dan Dewi Seca kemudian bunuh diri terjun ke api pembakaran (SKRP jilid 6 hlm. 86-1004).

3. Setyawati Obong (SO)

Babak I. Di Padepokan Nguntarasegara

Nyai Begawan Maniksutra sedang membujuk Batik Madrim, anaknya, agar segera menikah karena sudah cukup dewasa. Kalau sampai terlambat menikah akan membuat malu orang tua karena anak laki-lakinya tidak laku. Batik Madrim yang masih ingin sendiri itu menolak keinginannya.

Ketika Nyai Maniksutra sedang memeluk Madrim dalam rangka membujuk itu, tiba-tiba muncul Kyai Maniksutra. Dengan nada cemburu, Kyai Maniksutra menyayangkan kemesraan hubungan Nyai Maniksutra dan Madrim. Ketika Nyai Maniksutra dan Madrim ketakutan, Kyai Maniksutra berterus terang bahwa hanya bergurau.

Babak II. Di Kraton Malawapati

Dewi Pramesti sedang membujuk Anglingdarma agar segera menikah. Tidak sepantasnya seorang raja tidak ada permaisuri yang mendampingi. Anglingdarma belum dapat segera menikah karena belum mendapat pasangan yang cocok.

Babak III. Di Padepokan Nguntarasegara

Nyai Begawan Maniksutra sedang menemui gadis Mandasari yang sengaja diundangnya untuk dijodohkan dengan Batik Madrim. Sebetulnya Mandasari memang segera ingin menikah, tetapi tampaknya Madrim masih ingin menunda-nunda. Tiba-tiba muncullah Setyawati. Ketika Setyawati bertanya ada keperluan apa Mandasari datang, dengan malu-malu Mandasari berterus terang bahwa akan dijodohkan dengan Batik Madrim. Mendengar jawaban itu Setyawati tampak tidak senang, tetapi hanya dipendamnya dalam hati.

Babak IV Di Kraton Malawapati

Prabu Anglingdarma sedang dihadap oleh Patih Haryaseksara, dan para penggawa seperti Handayaningrat dan Wijanarka, membicarakan masalah perlunya penggantian jabatan patih karena patih yang ada sudah berusia lanjut, Anglingdarma belum bisa segera memutuskan masalah itu, bahkan kemudian mengajak Handayaningrat dan Wijanarka untuk berburu ke hutan.

Babak V. Di Suatu Desa

Resawana sedang bekerja memintal tali rami sambil bersenandung tembang Jawa. Tembang Resawana disahut dengan tembang juga oleh pemuda Pendana anaknya. Dalam tembang-tembangnya tampak bahwa Pendana sedang jatuh cinta. Ternyata Pendana memang sedang jatuh cinta kepada Srini gadis cacat tetangganya. Pak Resawana menyayangkan mengapa Pendana mencintai gadis cacat, tetapi Mbok Resawana setuju kalau Pendana menikah dengan Srini berburu karena cacat fisik tidak mengurangi harkat kemanusiannya. Tiba-tiba datanglah Prabu Anglingdarma ke rumah itu, tentu saja membuat mereka terkejut. Ternyata Anglingdarma bermaksud mengajak Resawana dan Pendana untuk menemaninya berburu.

Babak VI. Di Hutan

Setyawati yang sedang terlunta-lunta di hutan ditemani oleh Ceplis dikejutkan oleh munculnya seorang pemuda yang berpenampilan menakutkan. Ketika Setyawati dan Ceplis sedang berlari menghindari pemuda itu, bertemulah mereka dengan rombongan Anglingdarma. Pendana tahu bahwa pemuda yang menakut-nakuti Setyawati itu adalah Runtung tetangganya. Runtung kemudian disuruh pergi agar tidak mengganggu Setyawati, Dalam pertemuan di hutan itu Anglingdarma jatuh cinta kepada Setyawati dan menyatakan niatnya untuk mengangkat Setyawati sebagai permaisuri di Kraton Malawapati. Setyawati tidak begitu menanggapi kata-kata Anglingdarma.

Babak VII. Di Hutan

Prabu Wijayakerta dari Kerajaan Nggiripatra, Prabu Nilakrama dari Bumireja, dan Prabu Mandragini dari Mandalaputra sedang berkumpul di hutan itu untuk meng- ikuti sayembara perang melawan Batik Madrim untuk memperebutkan Setyawati. Ketika sudah berhadapan, Batik Madrim  merasa iba melihat musuh-musuhnya yang sudah tua, tetapi sayembara perang tetap dilaksanakan. Batik Madrim mempersilakan para raja itu memukulnya terlebih dulu baru kemudian nanti Madrim membalasnya. Para raja itu bergantian memukul Madrim, tetapi Madrim tidak goyah. Belum sampai Madrim membalas, para raja itu lari ketakutan dan membatalkan keinginannya untuk menyunting Setyawati.

Anglingdarma beserta rombongan dan Setyawati tiba di tempat itu. Anglingdarma mengikuti pula sayembara perang dengan adu kesaktian. Anglingdarma tiba-tiba menghilang dari pandangan Batik Madrim sehingga Madrim ketakutan. Ketika Anglingdarma meminta agar Batik Madrim juga menunjukkan kesaktiannya, ternyata Madrim tidak bisa menghilang. Madrim mengaku kalah dan Setyawati boleh disunting oleh Anglingdarma.

Babak VIII. Di Padepokan Nguntarasegara

Begawan Maniksutra sekeluarga menerima kedatangan Anglingdarma. Karena Batik Madrim sudah terbukti kalah melawan Anglingdarma dan Anglingdarma ingin segera memboyong Setyawati untuk dijadikan permaisuri di Malawapati, maka Maniksutra segera mengizinkannya. Ternyata Setyawati masih ingin tinggal di padepokan itu untuk membersihkan diri dan belajar tatacara sebelum masuk kraton, tetapi Anglingdarma mengatakan bahwa sesuci dan belajar tatakrama bisa langsung dilakukan di kraton. Dengan agak terpaksa Setyawati bersedia segera dibawa ke kraton asalkan Batik Madrim juga ikut serta. Anglingdarma menyetuji permintaan itu.

Babak IX. Di Kraton Malawapati

Prabu Anglingdarma sedang berbincang-bincang dengan Setyawati di taman. Tiba-tiba Anglingdarma tertawa melihat sepasang cicak yang sedang berkasih-kasihan. Mendengar Anglingdarma tertawa tanpa sebab, Setyawati tersinggung mengira Anglingdarma menertawakannya. Ketika Setyawati bertanya mengapa Anglingdarma tertawa, Anglingdarma berterus terang bahwa dirinya memiliki aji Gineng yang bisa mengetahui bahasa binatang. Anglingdarma sedang menertawakan cicak. Sekalipun Anglingdarma sudah berterusterang, Setyawati tetap tidak percaya. Setyawati baru akan percaya setelah diajarkan aji Gineng itu kepadanya. Anglingdarma tidak mungkin mengajarkan ajian itu kepada siapa pun karena fatal akibatnya. Karena tetap tidak diajarkan ajian itu, Setyawati memutuskan untuk lebih baik bunuh diri dengan terjun ke api.

Api pembakaran pun disiapkan, Setyawati akan segera terjun ke api. Ketika sekali lagi Anglingdarma menanyakan mengapa Setyawati ingin bunuh diri, benarkah hanya karena tidak diajarkan aji Gineng itu, akhirnya Setyawati mengaku bahwa ada hal lain yang mendorongnya lebih baik bunuh diri. Setyawati merasa tidak seimbang mendampingi Anglingdarma karena sesungguhnya Setyawati sudah tidak perawan lagi. Yang merenggut kegadisan Setyawati tidak lain adalah Batik Madrim. Mendengar pengakuan Setyawati itu Anglingdarma terkejut, Batik Madrim hanya menunduk lesu, dan kemudian Setyawati terjun ke api sambil tersenyum. Tamat (Kussudyarsana, 1989).

C. Inovasi

Dalam tulisan ini sengaja dipilih istilah inovasi dan bukan modernitas karena pembaharuan yang terjadi dalam cerita ketoprak SO masih dalam batas-batas tertentu. Berbeda dengan judul yang dipilih oleh Mursal Esten ketika meneliti drama Wisran Hadi, di sana memang disebutkan "antara tradisi dan modernitas" karena drama Wisran Hadi memang sungguh-sungguh moderen. Dalam drama Puti Bungsu, Wisran Hadi memang mengganti nama tokoh Malin Duano dengan nama moderennya Christian Munawar (Junus, 1985: 40). Dalam cerita ketoprak SO perubahannya tidak sejauh itu.

Inovasi ialah pembaharuan yang dilakukan sastrawan, baik yang menyangkut unsur cerita maupun penceritaannya (Sudjiman, 1990: 37). Unsur-unsur cerita yang menunjukkan adanya pembaharuan meliputi munculnya nama-nama tokoh baru, nama-nama tempat baru, serta interpretasi terhadap suatu kejadian secara baru pula. Dari segi penceritaannya, pembaharuan tampak karena semula dalam bentuk prosa, kemudian dalam bentuk puisi tembang macapat, dan akhirnya dalam bentuk naskah drama. Hal-hal itulah yang akan dibahas dalam artikel ini.

Nama-nama yang tampak sengaja diciptakan oleh pengarang SO melengkapi nama-nama yang sudah ada masih kental aroma tradisionalnya. Di samping tokoh asli Anglingdarma, Setyawati, dan Batik Madrim, muncul nama-nama tokoh Begawan Maniksutra, Mandasari, Ratu Pramesti, Patih Haryaseksara, Handayaningrat, Wijanarka, Resawana, Pendana, Runtun, Prabu Wijayakerta, Prabu Nilakrama, Prabu Mandragini, dan wanita pembantu Ceplis. Nama-nama seperti itu masih terasa kejawaannya, tetap tradisional, tidak seperti Christian Munawar pilihan Wisran Hadi. Nama-nama tempat baru, yang baru muncul dalam SO dan belum muncul dalam TK maupun SKRP adalah Padepokan Nguntarasegara, Keraajaan-kerajaan Nggiripatra, Mandalaputra, dan Bumireja. Nama-nama tempat seperti itu tidak asing bagi telinga orang Jawa tradisio- nal karena dalam kenyataan memang ada nama-nama tempat sepertiNguntaranadi dan Giritantra di daerah Wonogiri, Jawa Tengah.

Dengan demikian inovasi pengarang masih sangat memperhatikan sesuatu yang layak untuk nama tokoh ketoprak serta nama lokasi terjadinya peristiwa.

Dalam cerita ketoprak SO, digambarkan bahwa Madrim dan Setyawati adalah kakak- beradik anak Begawan Maniksutra. Bisa jadi hal ini juga merupakan interpretasi sang pengarang karena dalam SKRP misalnya, yang kakak-beradik adalah Anglingdarma dan Batik Madrim, dan keduanya dinikahkan dengan juga kakak-beradik Dewi Seca dan Dewi Nilawati. Pengarang sengaja menggambarkan bahwa Batik Madrim dan Setyawati adalah kakak-beradik, tentunya bertalian dengan tragedi akhir cerita ketika ternyata Setyawati bunuh diri terjun ke api bukan karena aji Gineng, tetapi karena Setyawati sudah kehilangan mahkota kewanitaannya dan yang merenggut adalah Madrim. Dalam cerita-cerita Anglingdarma terdahulu, pembaca boleh puas ketikadikisahkan Setyawati bunuh diri terjun ke api karena keinginannya memiliki ajian gaib Suleman atau apa pun namanya, tidak terpenuhi, tetapi pengarang cerita ketoprak Handung Kussudyarsana merasa perlu memecahkan teka-teki bunuh diri itu. Dalam tujuh dialog terakhir babak terakhir dilukiskan sebagai berikut.

54. Setyawati: (nyembah-manteb)

Sinuhun, Mahaprabu Anglingdarma,rumentahing sih pangapunten dalem. Leres pangandika dalem, saktemenipun kula akeni, anggen kula nyuwun pejah obong menika, yekti minangka pangruwating dosa kula. Mila kula boten purun sampeyan dalem pundhut garwa jalaran kula boten purun nambahi dosa kula.

55. Anglingdarma: (agung)

Setyawati, mara unjukna dosanitra.

56. Setyawati: (nyawang Prabu Angling-darma-manteb)

Kula dosa, awit sampun kecalan mustikaning wanita kula

57. Anglingdarma: (kejot)

Sira wis dudu prawan, Setyawati? Sapa sing methik mustikaning wanitamu?

58. Setyawati: (manggalih sakedhap-lirih nanging cetha)

Kakang Bathik Madrim (nyawang Bathik Madrim-lesu).

59. Bathik Madrim: (kaget - nyawang Setyawati satleraman - tumungkul keduwung batosipun).

60. Setyawati: (sampun kobong-mesem).

(Kussudyarsana, 1988: 70-71)

Terjemahan:

54. Setyawati: (menyembah-mantab)

Sinuhun, Mahaprabu Anglingdarma maafkanlah saya, sungguh saya akui, mengapa saya ingin mati bakar diri, itu sebagai peruwat dosa saya. Saya tidak mau paduka ambil isteri karena saya tidak mau menambah dosa saya.

55. Anglingdarma: (agung)

Setyawati coba katakan apa dosa-mu.

56. Setyawati: (menatap Prabu Angling-darma-mantab)

Saya berdosa, saya sudah kehilangan mahkota kewanitaan saya.

57. Anglingdarma: (terkejut)

Kau sudah bukan perawan, Setyawati? Siapa yang memetik mahkota kewanitaanmu?

58. Setyawati: (berpikir sejenak-pelan tetapi jelas)

Kakang Batik Madrim (memandang Batik Madrim-lesu)

59. Batik Madrim: (terkejut memandang Setyawati sekilas menunduk-menyesal dalam hati)

60. Setyawati: (sudah terbakar tersenyum).

Dari perbandingan tiga cerita di atas, peristiwa Setyawati bunuh diri terjun ke api tetap sama. Inovasi tampak dalam interpretasi mengapa Setyawati harus bunuh diri, menurut yang terakhir, ternyata karena sudah tidak perawan lagi sehingga merasa tidak pantas menjadi permaisuri. Untuk keperluan bagian akhir inilah, maka pada bagian depan dilukiskan kalau Batik Madrim dan Setyawati kakak-beradik. Batik Madrim tidak segera menikah dengan Mandasari, Setyawati tidak senang mendengar kabar Mandasari akan menikah dengan Batik Madrim. Setyawati tidak segera menerima pinangan Angling-darma, Batik Madrim harus mengadakan sayawa ara perang. Batik Madrim harus dibawa serta masuk kraton, dan minta sesuatu yang tidak mungkin diberikan oleh Anglingdarma.

Kisah cinta antara Setyawati dan Batik Madrim yang kakak-beradik, yang seharusnya tidak terjadi, dapat dihubungkan dengan masalah perkawinan sumbang. Di Indonesia memang juga tersebar dongeng biasa bertipe Oedipus, dengan salah satu motifnya, yaitu mother son incest `perkawinan sumbang antara ibu dan putra kandung`. Contoh cerita bertipe Oedipus itu di Nusantara antara lain Sangkuriang dari Jawa Barat, Watugunung dari Jawa Tengah, Jawa Timur, dan Balim dan Bujang Munang dari Kalimantan Barat (Danandjaja, l986: 102-103).

Di dalam keseluruhan cerita ketoprak SO, memang tidak ada deskripsi yang lebih jelas mengenai status Setyawati dan Batik Madrim, benarkah keduanya anak kandung. Justru pada bagian awal, bahkan dilukiskan Begawan Maniksutra cemburu akan kemesraan Batik Madrim dan Nyai Maniksutra. Atau barangkali Setyawati dan Madrim adalah kakak-beradik seperguruan, yang jelas hilangnya keperawanan Setyawati telah menimbulkan tragedi, tetapi tampaknya Setyawati tidak terlalu menyesal, dia terjun ke api sambil tersenyum.

Cerita Anglingdarma yang semula dikenal sebagai cerita Aridarma dalam Sastra Jawa Pertengahan prosa itu terdapat pada bagian akhir kitab Tantri Kamandaka. Cerita tersebut merupakan adaptasi dari Pancatantra India yang ternyata paling digemari di Indonesia (Zoetmulder: 1983: 545). Cerita Anglingdarma masih terus ditulis orang, termasuk menjadi lakon ketoprak, seperti yang dilakukan oleh Handung Kussudyarsana dan Bondan Nusantara. Berbeda dengan Bondan Nusantara yang menulis naskah ketoprak masih dengan judul yang biasa, Mahaprabu Anglingdarma yang disiarkan oleh Radio Retja Buntung Yogyakarta (Mardianto, 2001: 125) Handung berani mengubah dengan tegas judul itu, tanpa mengurangi daya tariknya, menjadi Setyawati Obong. Inovasi yang dilakukan oleh Handung dalam hal judul ini tidak mengada-ada karena pada cerita lain, yaitu Ramayana, ada episode yang juga menggunakan kata obong `bakar`. Dalam seni pertunjukan sendratari Ramayana di Candi Prambanan (Suwito, 1998: 31), dipergelarkan cerita Ramayana dalam enam lakon, lakon ketiga dan lakon terakhir masing-masing berjudul Anoman Obong `Anoman membakar (kraton Alengka)`, dan Sinta Obong `Sinta Bakar (Diri)`.

Sebuah naskah drama adalah karya sastra (Suryo, 1983: 65). Drama dapat dipisahkan menjadi dua, yaitu drama sebagai text play yang dapat dimengerti isinya dengan dibaca sendiri secara soliter, dan drama sebagai performance yang harus disaksikan pementasannya (Tarigan, 1986: 73). Dalam analisis ini, cerita ketoprak SO diperlakukan sebagai drama yang dapat dibaca sendiri dan tidak dilihat pementasannya.

Naskah cerita ketoprak kini juga sudah dibuat full play, naskah lengkap, tidak lagi sekedar urutan cerita dan pokok-pokok pembicaraan. Namun, naskah ketoprak tersebut tidaklah kaku. Para pemain masih tetap bebas berimprovisasi (Mintardja, 1997: 34). Memang tidak semua grup ketoprak menggunakan naskah, dan ternyata bisa lancar juga, seperti dilakukan grup ketoprak Radio Suara Istana di bawah sutradara Djumeno. Hal itu dapat terjadi karena sebagian pemainnya memang orang-orang yang telah menguasai dunia ketoprak (Mardianto, 2001: 128).

Ketika Handung sengaja membuat naskah lengkap ketoprak sebagai karya sastra drama, tentu saja ini juga merupakan kebaruan karena sebelumnya naskah ketoprak tidak berbentuk naskah drama. Naskah ketoprak SO terdiri atas 10 babak. Dalam babak-bakak itu terdapat dialog antar pemain yang dilengkapi keterangan dalam tanda kurung mengenai sikap, roman muka, cara memandang, nada suara, bahkan suasana hati para tokohnya. Pada halaman pengantar buku naskah ketoprak itu, Handung Kussudyarsana (1989: 4) mengatakan: "aku nyerat lampahan kethoprak migunakaken cara full play utawi cara jangkep…," (saya menulis lakon ketoprak menggunakan cara full play atau cara lengkap). Dengan keterangan pada awal seperti itu, jelas bahwa pengarang sengaja mengadakan pembaruan, bahkan sengaja  pula dia mengatakan bahwa naskahnya dalam bentuk full play. Dengan demikian, jelas bahwa pengarang sengaja mengadakan pembaruan dalam dunia ketoprak, baik memberikan tafsiran baru tentang sebuah kejadian di dalam ceritanya maupun dari segi bentuk naskahnya yang semula prosa Jawa Pertengahan, tembang macapat Sastra Jawa Klasik, menjadi drama sastra Jawa modern.

D. Penutup

Sesuai dengan tuntutan zaman, seni pertunjukan tradisional Jawa ketoprak ikut pula menampilkan pembaruan. Pembaruan  bukan hanya dari segi isi ceritanya, tetapi juga dari segi bentuk naskahnya. Perubahan dari segi isi yang terjadi dalam cerita ketoprak SO masih dalam batas kewajaran sebuah ketoprak. Oleh karena itu, tidak disebut modernitas, tetapi cukup inovasi atau usaha pembaharuan saja. Usaha-usaha pembaharuan yang terus dilakukan oleh para pengarang sebagai salah satu unsur pendukung seni tradisional Jawa ketoprak, selain pemain, penonton, dan bahkan juga sponsor pertunjukan, diharapkan dapat menjaga keberadaan cerita ketoprak. Melalui media seperti ketoprak, tidak mustahil dapat  disampaikan misi pendidikan dan kebudayaan dalam ikut serta mempertahankan jatidiri bangsa.

Daftar Pustaka

  • Danandjaja, James. 1986. Foklore Indonesia: Ilmu Gosip, Dongeng, dll. Jakarta: Grafitipers Esten, Mursal. 1992. Tradisi dan Modernitas  dalam Sandiwara. Jakarta: Intermasa.
  • Harymawan, RMA. 1993. Dramaturgi. Cetakan II. Bandung: Remaja Rosda Karya.
  • Hutomo, Suripan Sadi. 1988. "Drama dalam Sastra Jawa Moderen" dalam Poer Adhi Prawoto (Ed.), Wawasan Sastra Jawa Moderen. Bandung: Angkasa.
  • Junus, Umar. 1985. Resepsi Sastra. Jakarta: Gramedia.
  • Kedaulatan Rakyat. 1996. 15 Juli hal. 1 dan 12. Yogyakarta: PT BP KR.
  • Kesawamurti, Heru. 1997. “Ketoprak di dalam Komunitas Masyarakat Desa” dalam Lephen Purwaraharja dan Bondhan Nusantara (Ed.) Ketoprak Orde Baru. Yogyakarta: Bentang Budaya.
  • Kussudyarsana, Handung. 1989. Ketoprak. Yogyakarta: Kanisius.
  • -------. 1989. Setyawati Obong. Yogyakarta: Kanisius.
  • Kristanto, J,B, 1997. “Ketoprak Plesetan, Tradisional Sekaligus Moderen” dalam Lephen Purwaraharja dan Bondan Nusantara, (Ed.), Ketoprak Orde Baru. Yogyakarta: Bentang Budaya.
  • Mardianto, Hery dan Antonius Darmanto. 2001. Tradisi Sastra Jawa Radio. Yogyakarta: Kalika.
  • Mintardja, S.H. 1997. “Penulisan Naskah Ketoprak” dalam Lephen Purwaraharja dan Bondan Nusantara, (Ed.). Ketoprak Orde Baru. Yogyakarta: Bentang Budaya.
  • Poerbatjaraka, R.M.Ng. 1952. Kapustakan Djawi. Djakarta: Djambatan.
  • Serat Kandhaning Ringgit Purwa jilid 6. l985. Dilatinkan A. Sarman Am. Jakarta: Djambatan.
  • Soedarsono. 1986. Serat Jandha Ringgit Tiyang Lampahan Mintaraga. Yogyakarta: Proyek Javanologi Depdikbud.
  • Soemardjo, Jakob. 1991. “Sastra Minoritas” dalam Poer Adhi Prawoto, (Ed.). Keterlibatan Sosial Sastra Jawa. Solo: Tri Tunggal Tata Fajar.
  • Supriyanto, Henricus. 1994. “Sandiwara Ludruk di Jawa Timur” dalam Buletin Seni Pertujukan Indonesia. Th. V. Jakarta: Grasindo.
  • Suryo, Bambang. 1983. Pengantar Teater dalam Studi dan Praktek. Jakarta: BPK Gunung Mulia.
  • Suwito, Yuwono Sri. 1998. “Ramayana dalam Pariwisata” dalam Sarworo Suprapto dan Sri Harti Widyastuti, (Eds.) Ramayana: Transformasi, Pengembangan, dan Masa Depannya. Yogyakarta: Lembaga Studi Jawa.
  • Tarigan, Henry Guntur. 1986. Prinsip-prinsip Dasar Sastra. Bandung: Angkasa.
  • Teeuw, A. 1988. Sastra dan Ilmu Sastra: Pengantar Teori Sastra. Cetakan II. Jakarta: Pustaka Jaya-Girimukti Pasaka.
  • Zoetmulder, P. J. 1983. Kalangwan: Sastra Jawa Kuno Selayang Pandang. Terjemahan Dick Hartoko. Jakarta: Djambatan.


_______________

Makalah ini didowload dari http://jurnal-humaniora.ugm.ac.id/, diakses pada tanggal 29 Juni 2009, dan telah dipubliskan di Jurnal Humaniora Volume X V, No. 2/2003.

Akhmad Nugroho adalah Staf Pengajar Jurusan Sastra Daerah, Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Gadjah Mada Yogyakarta.

 

 

Sumber foto: http://anelinda-store.com/

 

 


read : 8910

  Bagikan informasi ini ke teman Anda :  




Tuliskan komentar Anda !




Menu utama

Member login




Daftar Anggota | Lupa Password

Profil Penulis





Pembayaran

Bank Mandiri
Rekening Nomor :
137.000.3102288
Atas Nama :
Yayasan AdiCita Karya Nusa

Atau

Bank BCA
Rekening Nomor :
445.085.9732
Atas Nama :
Mahyudin Al Mudra

Konfirmasi pembayaran,
SMS ke : 08 1313 9494 58


atau lewat line Customer Servis di ( 0274 ) 377067
atau email akn@adicita.com atau adicita2727@yahoo.com
atau
Bagian Marketing Proyek
08 1313 9494 58


Profil Penulis

 Online: 145
 Hari ini: 1.293
 Kemarin : 2.166
 Minggu kemarin : 13.950
 Bulan kemarin : 62.839
  Total : 2.401.434