Kamis ,28 Agustus 2014
Balai Melayu Hotel

Artikel

Pesan Moral di Balik Cerita Rakyat

14 Juli 2010 11:16:51

Oleh Aliansyah Jumbawuya

Di tengah dominasi televisi dan derasnya serbuan sinetron, masihkah ada waktu bagi orang tua untuk mendongeng buat anak-anak mereka? Apalagi sekarang ini banyak wanita yang memilih berkarir di luar ketimbang menjadi ibu rumah-tangga, sehingga makin sempitlah peluang dia buat bercengkerama dengan si buah hati sambil menuturkan sebuah dongeng. Kenyataan ini diperparah lagi dengan minimnya penguasaan kita terhadap perbendaharaan cerita rakyat.

Padahal orang-orang tempo doeloe punya kebiasaan positif, sebelum tidur memperdengarkan dongeng kepada anak atau cucu. Dan itu, disadari atau tidak, merupakan sarana efektif untuk `mengekalkan` ikatan batin di antara mereka.

Lewat dongeng kreativitas dan imajinasi anak diasah sejak dini. Hal ini diakui oleh beberapa sastrawan Indonesia, seperti Putu Wijaya, yang mengungkapkan bahwa kepiawaiannya mengarang dipengaruhi oleh kebiasaannya sejak kecil yang suka mendengarkan dongeng dari sang nenek.

Selain itu, dongeng juga mengandung nilai edukatif. Biasanya di balik sebuah cerita memuat pesan moral tertentu. Seringkali untuk menanamkan akhlak terpuji dibalut dengan cerita. Dibanding kalau pesan itu disampaikan secara dogmatis, daya serap lewat cerita jauh lebih tinggi dan membekas kuat dalam memori.

Sayangnya, tradisi mendongeng sekarang ini seolah kurang mendapat tempat di masyarakat. Perlu upaya penyelamatan agar cerita-cerita rakyat, yang pernah hidup di masa lalu supaya dilestarikan, sehingga tidak putus mata rantai dengan generasi berikut.

Langkah itulah yang dilakukan oleh Syamsiar Seman, dengan menghimpun cerita rakyat Kalsel yang tadinya masih berbentuk lisan ke dalam karya tulis “Galuh Rumbayan Amas”. Buku ini memuat lima judul cerita, yang masing-masing mengandung pesan moral tertentu.

Cerita “Galuh Rumbayan Amas” misalnya, lewat tokoh Agap digambarkan bahwa orang yang rajin bekerja dan berani mengambil resiko akan memperoleh keberhasilan, dalam hal ini ia mendapatkan istri yang cantik bernama Galuh Rumbayan Amas. Mereka hidup rukun dan bahagia hingga dianugerahi tujuh orang anak. Namun, karena Agap teledor, sehingga ingkar janji untuk tidak membakar kayu mali-mali, akibatnya istrinya itu yang merupakan jelmaan hantu baranak, kembali ke alamnya semula.

Cerita yang mirip dengan kisah Jaka Tarub dan Tujuh Bidadari ini, mengingatkan kita betapa pentingnya memegang teguh sebuah janji.

Berikut, “Asalnya Gajah Kada Ada di Kalimantan” mengandung pesan moral agar seorang pemimpin itu menjauhkan diri dari perasaan paling hebat, karena di dunia ini tak ada sesuatu yang abadi. Dan bagi si lemah agar tidak didzalimi, maka ia musti pandai-pandai menggunakan akalnya, sebab seringkali terbukti kepintaran itu mampu mengalahkan mereka yang bertubuh kuat.

Sedangkan dalam cerita ketiga “Mancari Bagandang Nyiru” mengisyaratkan agar dalam melakukan aktivitas apapun jangan sampai lupa diri sehingga tak ingat waktu. Apalagi menjelang Maghrib saatnya bersiap-siap untuk melaksanakan shalat, mustinya sudah ada di rumah. Seperti yang dialami Mawan karena keasyikkan memancing ikan ia tak sadar dikariyau (hipnotis) hantu.

Lama ditunggu-tunggu tak juga muncul, maka warga kampung pun berinisiatif mencari dengan bagandang nyiru. Disini memperlihatkan betapa erat hubungan persaudaraan dan tingginya kepedulian di antara mereka, sehingga ketika ada warga yang terkena musibah tetangga lain tak bisa tinggal diam. Sikap gotong-royong semacam ini patut diwarisi, namun ironisnya dalam masyarakat modern semakin ditinggalkan.

Sementara di balik cerita “Pilanduk Manunggui Agung Raja” terselip pesan moral agar kita jangan suka menjahili orang lain. Sebab, suatu saat nanti cepat atau lambat kejahatan yang pernah kita lakukan akan mendapat balasan yang setimpal.

Demikianlah, orang-orang dulu kalau ingin memberi nasehat  sering menggunakan media cerita rakyat, sehingga meninggalkan kesan mendalam di hati dan mampu menanamkan nilai-nilai konstruktif bagi perkembangan mental dan akhlak anak-anak. aliansyah jumbawuya.

_____________________

Tulisan ini didownload dari: http://padepokanpena.wordpress.com/, diakses pada tanggal 29 September 2009.

Aliansyah Jumbawuya adalah Wakil Koordinator Liputan Serambi UmmaH di Kalimantan Selatan, Indonesia.

Sumber foto: http://feel-green.deviantart.com/

Sumber : http://ceritarakyatnusantara.com/id/article

 


read : 7021

  Bagikan informasi ini ke teman Anda :  




Tuliskan komentar Anda !




Menu utama

Member login




Daftar Anggota | Lupa Password

Profil Penulis





Pembayaran

Bank Mandiri
Rekening Nomor :
137.000.3102288
Atas Nama :
Yayasan AdiCita Karya Nusa

Atau

Bank BCA
Rekening Nomor :
445.085.9732
Atas Nama :
Mahyudin Al Mudra

Konfirmasi pembayaran,
SMS ke : 08 1313 9494 58


atau lewat line Customer Servis di ( 0274 ) 377067
atau email akn@adicita.com atau adicita2727@yahoo.com
atau
Bagian Marketing Proyek
08 1313 9494 58


Profil Penulis

 Online: 200
 Hari ini: 2.370
 Kemarin : 2.171
 Minggu kemarin : 13.464
 Bulan kemarin : 54.043
  Total : 2.285.232